TRENDING

Warisan Leluhur yang Masih Hidup! Tradisi Kenduri Tulakan Desa Semono Purworejo

 Purworejo - Salah satu desa yaitu Desa Semono, Bagelen terdapat tradisi yang sampai sekarang masih lestari. Masyarakat Desa Semono, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo terus berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur mereka meskipun zaman semakin maju dan gaya hidup modern. 


Kenduri Tulakan, salah satu tradisi yang masih dilakukan secara turun-temurun, diadakan setiap malam Jumat Kliwon pada bulan Suro atau Muharram setiap tahunnya. Namun, untuk tahun ini (Tahun Jawa), karena bulan Suro tidak ada hari Jumat Kliwon, pelaksanaannya diadakan pada hari Jumat Kliwon akhir Bulan Besar sesuai dengan perhitungan tetua adat.

Tradisi Kenduri Tulakan adalah cara warga masyarakat desa Semono untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memohon perlindungan, keamanan, dan keselamatan bagi seluruh penduduk desa. Aktivitas ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Semono. Mereka terus mempertahankan prinsip gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur mereka.

Kenduri diadakan di setiap kelompok RT yang ada di Desa Semono, dimulai dari kelompok RT paling ujung timur desa hingga kelompok RT paling barat. Kegiatan ini unik karena dilakukan di setiap perempatan dan pertigaan jalan di lingkungan RT masing-masing, bukan di dalam rumah atau balai pertemuan. Lokasi ini dipilih untuk menunjukkan persatuan warga dan harapan bahwa seluruh desa akan selalu dilindungi oleh keberkahan, keselamatan, dan dijauhkan dari malapetaka atau musibah.

Pada malam hari pelaksanaan kenduri, yaitu hari Kamis (11/06/2026), seluruh warga desa Semono berkumpul dengan membawa berbagai hidangan tradisional seperti nasi tumpeng, ayam ingkung, jajanan pasar, serta aneka macam makanan hasil swadaya masyarakat. Acara dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh adat setempat. Kemudian, sebagai simbol kebersamaan dan kerukunan antarwarga, makan bersama dilakukan.

Dalam budaya Jawa, bulan Suro memiliki makna khusus sebagai bulan yang membawa nilai spiritual, introspeksi, dan permohonan keselamatan. Bulan ini, berbagai tradisi Jawa dilakukan dengan tujuan meningkatkan hubungan sosial dan menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Berdasarkan observasi dengan seorang sesepuh desa Semono, mengatakan bahwa Kenduri Tulakan bukan hanya tradisi yang dilakukan secara tradisional tetapi juga cara untuk membuat warga lebih dekat satu sama lain dan mengajak mereka untuk bekerja sama satu sama lain dan menjaga keharmonisan dalam hidup masyarakat.

Sesepuh desa mengatakan pelestarian tradisi Kenduri Tulakan adalah bagian dari upaya untuk menjaga identitas budaya desa agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman. Mereka juga menggunakan tradisi ini sebagai cara untuk mengajarkan generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri.

"Tradisi Kenduri Tulakan adalah warisan leluhur yang memiliki nilai luhur. Selain sebagai ungkapan rasa syukur dan doa keselamatan, kegiatan ini juga memperkuat persatuan dan kebersamaan masyarakat. Kami berharap generasi muda dapat terus melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Desa Semono," terangnya.

Dengan tetap lestarinya Kenduri Tulakan setiap malam Jumat Kliwon di bulan Suro, Desa Semono menunjukkan bahwa kemajuan zaman tidak harus menghilangkan akar budaya. Justru melalui pelestarian tradisi, masyarakat dapat menjaga jati diri sekaligus memperkuat nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan desa.

Pemerintah Kabupaten Purworejo Memberikan Apresiasi Dalam Tradisi Kenduri Tulakan di Punden Eyang Jati Kusumo

Pada hari Jumat Kliwon (12/06/2026), penduduk Desa Semono, yang terletak di Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, melakukan tradisi turun temurun, yaitu Kenduri Suran di Pepunden Eyang Jati Kusumo. Hingga saat ini, masyarakat masih memegang teguh tradisinya yang diadakan setahun sekali di Bulan Suro. Tahun ini, pelaksanaannya berbeda dari tahun sebelumnya karena menurut sesepuh adat Jawa, bulan Suro tidak ada hari Jumat Kliwon, sehingga dimulai pada akhir bulan Besar.


Dimulai dengan penyembelihan empat ekor kambing, yang didanai oleh warga dari dua dusun di Desa Semono, Dusun Krajan dan Dusun Sijo. Daging dibagikan kepada seluruh peserta pesta setelah itu.

Warga masyarakat dari dua dusun tersebut datang ke Makam Leluhur/Pepunden Eyang Jati Kusumo dengan membawa wadah nasi, lauk, dan sayur untuk mengadakan kenduri dan doa bersama setelah sholat Jumat. 

Selain dari Desa Semono, orang-orang dari luar desa juga datang dengan membawa wadah berisi nasi rosulan dan ingkung, yang disebut Rosulan, untuk mengambil berkah. Ini karena masyarakat percaya pada karomah atau kesaktian Eyang Jati Kusumo. Jika seseorang memiliki nadzar, maka rosulan akan diberikan kepada mereka karena karomahnya.

Wakil Bupati Kabupaten Purworejo menghadiri acara yang diadakan di kompleks pepunden Eyang Jati Kusumo, yang membuatnya lebih istimewa. Selain itu, Camat Bagelen bersama Forkompincam, Kepala Desa Semono bersama Perangkat, Tokoh Masyarakat, dan tamu undangan lainnya hadir di acara tersebut. Dalam sambutan, Dion Agasi Setiabudi, Wakil Kabupaten Purworejo, S.I.Kom, M.Si mendoakan agar warga Desa Semono selamat, aman dari bencana, dan memiliki banyak rejeki dan keberkahan.

Mas Dion—panggilan akrabnya—juga mengucapkan terima kasih kepada panitia dan pemerintah Desa Semono atas menyelenggarakan acara tradisi ini.

Dia menambahkan, "Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada masyarakat dan Pemerintah Desa Semono yang masih mempertahankan dan melestarikan budaya dan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Hal seperti ini harus dilestarikan."

Tradisi Kenduri Suroan berakhir dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Modin Desa Semono dan diamini oleh ratusan orang yang hadir.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar